Amantubillah Tsummastaqim: Berimanlah kepada Allah Lalu Istiqomah!

Diposting pada

Selamat datang di blog lightsislam.com, blog Islami bagi Muslim dan Muslimah. Memuat artikel seputar akidah Islam, fikih, pendidikan anak, wanita, al Qur’an dan hadits. Materi yang di tulis di blog lightsislam.com diambil dari berbagai sumber dengan penambahan bahasa yang sederhana dan tidak mengunakan bahasa yang baku, agar lebih mudah dipahami dan tidak sama persis dengan yang ada di buku. Selamat membaca dan jangan lupa share ke media sosial kamu ya !

Berimanlah kepada Allah Lalu Istiqomah

Makna iman dan istiqomah dan pengamalannya. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw menyatakan, apa yang harus kita lakukan dalam menjalani kehidupannya ini “sederhana” saja, yaitu beriman kepada Allah SWT, lalu istiqomah (konsisten) dalam keimanan itu.

“Qul, amantu billahi tsumma itstaqim!”. Katakanlah, aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah!

عن سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال: قلت: يارسول الله! قل لي في الاسلام قولا, لا أسأل عنه أحدا غيرك؟. قال: “قل آمنت بالله ثم استقم” رواه مسلم

“Dari Sufyan bin Abdullah radhiyallaahu’anhu, ia berkata: aku berkata wahai Rasulullah! Katakanlah padaku tentang Islam dengan sebuah perkataan (sehingga) aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selainmu. Nabi Saw menjawab: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

قل: ربي الله, ثم استقم

“Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, kemudian istiqamahlah”.

Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Fushilat:30:

إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزّل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التى كنتم توعدون

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami ialah Allah’, lalu mereka tetap lurus (istiqomah) dalam keimanannya, niscaya turun kepada mereka malaikat menyampaikan pesan kepada mereka bahwa janganlah kalian takut dan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian!”

Ayat itu menerangkan juga janji Allah yang mustahil disangkal. Mukmin yang istiqomah atau stabil dengan keimanannya tak perlu kuatir dan bersedih dalam tempuh kehidupan ini, dan senang karena surga menunggunya di akhirat nantinya.

Memiliki iman ke Allah SWT maknanya yakini Ia sebagai Tuhan alam semesta, percaya akan kebenaran kehadiran beberapa malaikat-Nya, wahyu-Nya (kitab-kitab Allah), beberapa rasul-Nya, hari akhir, dan takdir Allah SWT untuk tiap manusia. Justifikasi atas semuanya harus dituruti dengan perlakuan riil, sebagai pengamalan atas keimanan itu.

Pengamalan keimanan ke Allah harus dituruti dengan justifikasi atas semua firman-Nya, yang sekarang tercantum pada Alquran, sekalian mempraktikkan apa yang diperintah-Nya dan menjauhi dari apa yang dilarang-Nya.

Minimum, seorang Mukmin harus menunjukkan keimanannya dengan kerjakan shalat 5 waktu. Dalam sebuah hadis disebut, pembanding di antara seorang Mukmin dan kafir ialah shalat. Dari shalat, bila ditangani dengan khusyuk, maka terbentuk keadaan diri yang betul-betul runduk ke Allah SWT.

Keimanan ke beberapa malaikat minimum ditunjukkan karena ada kesadaran, jika di kiri-kanan kita ada selalu malaikat pencatat amal Rakib dan Atid. Ke-2 malaikat itu selalu memantau sikap kita dan menulisnya. Allah SWT akan minta pertanggungjawaban kita di akhirat nantinya.

Karena ada kesadaran itu, karena itu sikap kita akan teratasi. Cuma akan ke arah ke beberapa hal yang diharuskan dan diperbolehkan oleh tuntunan Allah semata-mata (syariat Islam).

Keimanan kepada kitabullah, minimal dengan melakukan pembenaran kepada Alquran, yang diikuti dengan pembacaan, penghayatan, dan pengamalan kandungan isinya.

Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup wajib hukumnya bagi setiap mukmin. Alquran merupakan hudan (petunjuk) bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah:2) dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan ini.

Keimanan kepada para utusan Allah (Rasulullah), minimal dibuktikan dengan membenarkan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW dan nabi/rasul sebelumnya, diikuti dengan menjalankan apa yang disampaikan atau didakwahkannya.

Sikap Nabi, baik berbentuk pengucapan, tindakan, atau persetujuannya, sebagai sunnah, sebagai panutan sekalian dasar sikap untuk golongan Mukmin.

Keimanan ke hari akhir ialah percaya jika sesudah kehidupan dunia ini ada alam kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Semua makhluk akan mati atau musnah. Manusia dibangkitkan kembali untuk jalani “kehidupan ke-2 “.

Di alam akhirat tersebut manusia jalani kehidupan sebenarnya. Berbahagia atau nahasnya, ditetapkan oleh amal tindakannya sepanjang di bumi ini. Di alam akhirat tersebut pembalasan atas amal manusia dilaksanakan Allah.

“Pada hari itu manusia akan pergi berpecah-pecah untuk diperlihatkan kepada mereka akan kerja-kerja mereka. Barangsiapa yang beramal kebaikan seberat timbangan atom, maka akan dilihatnya. Dan barangsiapa yang beramal kejahatan seberat timbangan atom, maka akan dilihatnya pula.” (QS Al-Zalzalah:6-8).

Keyakinan akan adanya akhirat harus dibuktikan dengan pengumpulan bekal kita untuk kehidupan di sana. Yakni, berupa amal saleh. Beribadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama makhluk, sebagaimana diperintahkan-Nya. Hidup di dunia ini hanya sementara.

Pergunakan sebaik-baiknya, jangan sampai terlena oleh kenikmatan duniawi yang melenakan, sehingga melupakan kita akan persiapan (amal saleh) untuk akhirat.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi…” (QS. 28:77).

“Bukanlah orang yang paling baik darimu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya. Sebab, dunia itu penyampaian pada akhirat dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia” (HR. Ibnu ‘Asakir dari Anas).

Memiliki iman ke takdir, yaitu benarkan ada ketetapan Allah SWT. Yakni, ketetapan yang tentukan nasib atau kondisi kehidupan kita. Nasib atau kondisi itu menemani amal yang kita lakukan.

Ibaratnya, orang rajin belajar pasti pintar dan lulus ujian. Orang rajin bekerja pasti memperoleh kekayaan. Orang melaksanakan ibadah pasti mendapatkan pahala. Kebalikannya, bila kita lupa melaksanakan ibadah, berbuat banyak dosa, pasti ketetapan Allah berbentuk hukuman akan menerpa kita.

Demikian juga bila kita jalani kehidupan ini sama sesuai syariat Islam, pasti kebahagiaan hidup dunia-akhirat akan menemani kita. Kebalikannya, bila kita meremehkan syariat Islam, apa lagi melecehkannya, karena itu kemerosotan akan menerpa kita karena kita menyelimpang dari rel yang telah diputuskan.

Bila kita rajin jaga keadaan badan, dengan berolahraga misalkan, kesehatan jasmani kita pasti terawat. Demikian selanjutnya.

Pengertian Istiqomah

Rincian di atas hakekatnya ialah sikap istiqomah dalam memiliki iman ke Allah. Istiqomah ialah masih tetap, kokoh, dan kuat ke kepercayaan. Masih tetap tegar jalankan resiko keimanan seperti tergerai di atas.

Mengenai tafsir “istiqamah” dalam penggalan ayat “Kemudian mereka istiqamah”, Abu Bakr Ash-Shiddiq ra berkata: “yaitu mereka tidak menyekutukan Allah (berbuat syirik) dengan sesuatu pun”.

“Mereka tidak menoleh kepada tuhan-tuhan lain selain Allah”. Juga dalam riwayat lain: “Kemudian mereka istiqamah/meneguhkan pendirian mereka bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya Tuhan mereka”.

Dalam terminologi iman sendiri terkandung makna istiqomah.

Iman adalah mengucapkan dengan lisan (ikrarun bil lisan), diiringi dengan pembenaran dalam hati (tashdiqun bil qalbi), dan dibuktikan dengan tindakan nyata oleh seluruh anggota tubuh (‘amalun bil arkan).

Iman yang hanya dalam lisan saja, disebut nifak atau hipokrit.

Orang yang istiqomah dalam keimanannya, akan dapat mengalahkan setiap godaan untuk berbuat maksiat, syirik, nifak, atau mengabaikan syariat Islam. Hawa nafsu duniawi dan bujuk-rayu setan akan selalu mengintai kaum Mukmin agar mereka berpaling dari ajaran Allah yang diimaninya.

Orang yang tidak istiqomah ialah mereka yang mudah goyah keimanannya. Hawa nafsu duniawi, mengejar kesenangan duniawi, menjadi pilihannya dengan mengabaikan keimanannya.

Ini bukan berarti mengejar kesenangan duniawi dilarang, tetapi seyogianya orang beriman yang teguh dengan keimanannya akan mengejar kesenangan duniawi itu dengan tetap berpedoman kepada aturan Allah, berstandar halal-haram, manfaat-madarat, dan lain-lain.

Semoga kita termasuk orang yang mampu beristiqomah dalam keimanan kita. Amin! Wallahu A’lam.*

Terimakasih Atas kujungannya di blog lightsislam.com. Pastikan kamu agar membagikan postingan ini ke media sosial kamu ya !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *