Kaum Salaf “Tidak Ingin Terkenal”

Diposting pada

Kaum Salaf

Selamat datang di blog lightsislam.com, blog Islami bagi Muslim dan Muslimah. Memuat artikel seputar akidah Islam, fikih, pendidikan anak, wanita, al Qur’an dan hadits. Materi yang di tulis di blog lightsislam.com diambil dari berbagai sumber dengan penambahan bahasa yang sederhana dan tidak mengunakan bahasa yang baku, agar lebih mudah dipahami dan tidak sama persis dengan yang ada di buku. Selamat membaca dan jangan lupa share ke media sosial kamu ya !

Seorang ulama salaf, Al-Hasan al-Bashri bertutur tentang Ibnul Mubarak. Suatu saat Ibnul Mubarak pernah datang ke tempat sumber air yang disesaki banyak orang yang menggunakannya untuk minum. Kala itu orang-orang tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarak. Orang-orang akhirnya saling berdesakan dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Ketika selesai mendapatkan minuman, Ibnul Mubarak pun berkata pada al-Hasan al-Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.”

Seperti beberapa orang saleh sebelumnya, demikian pula figur agung Ibnul Mubarak ini yang lebih suka keadaannya tidak populer dan tidak menganggap sebagai permasalahan. Sementara saat ini, beberapa ribu langkah dan kesan dipakai karena hanya ingin memperoleh cap populer, spektakuler atau fantastis.

Adat tidak mau terkenal untuk jaga keikhlasan amal, memang demikian kuat di kelompok golongan assalafussaleh. Mereka tidak perduli dengan berkilau dunia dan mobilisasi manusia yang berkualitas sekalinya. Karena mereka lebih repot mempertajam batinnya di depan Ilahi. Karena, di sanalah sumber dari semua ketenangan dan ketenteraman hati.

Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dalam kumpulan larik puitis tasawufnya yang terkenal, al-Hikam, menulis:
“Idfan wujudaka fil ardhil-khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu” (Tanamlah wujudmu dalam bumi ketidakterkenalan, karena sesuatu yang tumbuh dari apa yang tidak ditanam, hasilnya tidaklah sempurna).

Tentu mereka juga tidak antisosial, karena justru dengan berinteraksi bersama manusia lain itulah, pesan-pesan Ilahi bisa disampaikan kepada mereka. Tapi mereka sama sekali tidak bangga dengan sanjungan manusia, karena bukan itu tujuan mereka.

Dan jika sebaliknya yang terjadi, yakni senang dengan pujian mereka, hal itu menjadi petaka baginya.
“Al-isti’nasu bin-nas, min alamatil-iflas”, (merasa nyaman dan senang bersama (pujian) manusia, adalah sebagian dari tanda kebangkrutan).

Bertumpu hanya kepada diri sendiri dan bukan kepada ketokohan, adalah pelajaran lain yang mungkin nyaris punah dari kita. Fenomena yang terjadi di lingkungan kita, ketika kita mengurus suatu perkara tertentu, kita sering sekali dihadapkan oleh tembok birokrasi yang begitu kokoh bahkan tidak memperoleh kejelasan perihal urusannya.

Tapi begitu yang datang seorang yang ditokohkan, serta merta hal itu memutuskan jalur antrian yang panjang sekalipun, mengabaikan profesionalisme dan keahlian sehebat apa pun, sehingga publik pun sering mengandalkan tokoh tertentu untuk memperlancar urusannya. Karena memang sistemlah yang membentuk demikian.

Sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada masa tabi’in. Misalnya apa yang terjadi dengan tokoh besar di kalangan tabi’in, yaitu Ibnu Muhairiz. Basyir bin Saleh bertutur; Ibnu Muhairiz datang ke sebuah kedai dengan membawa satu daniq (seperenam dirham). Dia ingin membeli sebuah baju. Kemudian seseorang berkata kepada pemilik toko, “Ini adalah Ibnu Muhairiz, berikanlah penjualan terbaik.” Ibnu Muhairiz marah, ia pun segera keluar, seraya berkata, “Saya membeli dengan harta saya, bukan dengan agama saya.”

Sumber: Republika.co.id

Terimakasih Atas kujungannya di blog lightsislam.com. Pastikan kamu agar membagikan postingan ini ke media sosial kamu ya !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *