KH Mohammad Nizam As-shofa LC, Pencipta Asli Syi’ir Tanpo Waton

Diposting pada

KH Mohammad Nizam As-shofa LC – Selamat datang di blog lightsislam.com, blog Islami bagi Muslim dan Muslimah. Memuat artikel seputar akidah Islam, fikih, pendidikan anak, wanita, al Qur’an dan hadits. Materi yang di tulis di blog lightsislam.com diambil dari berbagai sumber dengan penambahan bahasa yang sederhana dan tidak mengunakan bahasa yang baku, agar lebih mudah dipahami dan tidak sama persis dengan yang ada di buku. Selamat membaca dan jangan lupa share ke media sosial kamu ya !

KH Mohammad Nizam As-shofa LC, Pencipta Asli Syi’ir Tanpo Waton
KH Mohammad Nizam As-shofa LC, Pencipta Asli Syi’ir Tanpo Waton

KH Mohammad Nizam As-shofa LC, Pencipta Asli Syi’ir Tanpo Waton

Syi’ir Tanpo Waton adalah syiir yang sudah sangat populer terutama semenjak wafatnya Gus Dur. Syiir yang oleh sebagian kalangan diyakini telah ciptakan dan dilantunkan Alm. Gus Dur.

Faktanya, ternyata syiir tersebut dikarang sekaligus dilantunkan oleh KH Mohammad Nizam As-shofa, pemangku pondok pesantren Ahlus-Shofa Wal-Wafa yang beralamat di Desa Simoketawang Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Beliau juga memiliki beberapa bukti kalau syiir itu ciptaannya.

Pemilik suara rekaman syiir tanpo waton

KH Mohammad Nizam As-shofa yang telah dekat diundang Gus Nizam ini, di saat itu memiliki suara berat yang mengisyaratkan umur orang yang telah sepuh. Seperti yang didengar di beberapa masjid sejauh ini.

Tetapi rupanya tidak begitu dengan Gus Nizam. Dari segi umur, beliau jauh di bawah Gus Dur yang dipercaya orang pemilik suara dalam Syiir Tanpo Wathon.

Baru saat Gus Nizam mengucapkan salam, karena itu orang jadi percaya benar, suara Gus Nizam benar-benar sangat serupa dengan suara yang umum kedengar di beberapa masjid itu, yang di-claim serupa dengan suara Alm. Gus Dur.

Sejarah singkat syiir tanpo waton

Dalam keterangan dari berbagai sumber, Gus Nizam menyatakan, bila syiir yang ia sebut Syiir Tanpa Wathon sudah disusun sejak tahun 2004 lalu.

“Saat itu saya mulai senang menyendiri di kamar, menggandrungi kesenian wayang sambil belajar bahasa Jawa,” ucapnya.

Sejak itulah syiir berbahasa Jawa Kawi ini selalu dibaca ribuan para jama’ahnya usai pengajian, yang pada waktu itu rutin dilaksanakan setiap hari Rabu malam, hingga sekarang.

Disinggung tentang kepopuleran syiir yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai karya dan suara Gus Dur, Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini mengaku tidak pernah mempermasalahkan. Malah, beliau bersyukur bila Syiir yang diciptakannya itu bisa didengar banyak masyarakat.

“Kalau memang dengan sebutan Syiir Gus Dur masyarakat luas bisa mendengar, maka saya malah bersyukur dan tidak mempermasalahkannya. Toh tujuannya sama, demi syiar Islam,” tegasnya sambil menunjukkan CD asli Syiir Tanpo Wathon sebagai bukti.

Dalam CD yang berisi 8 pujian itu, Syiir Tanpo Wathon jusru berada pada nomor dua. Seluruh pujian dalam CD itu dibawakan sendiri oleh Gus Nizam bersama para santrinya. Hanya Syiir Tanpo Wathon yang menggunakan bahasa Jawa, 7 syiir lainnya menggunakan bahasa Arab.

Gus Nizam tidak terlalu mempermalahkan jika syiiran itu diakui pihak lain. Dorongan justru datang dari para jamaahnya. Para pengurus dan jamaah, akhirnya mengukuhkan Syiir Tanpa Wathon itu ke Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bukti Hak Cipta.

Baca Juga : Keutamaan dan Hikmah Shalat Berjamaah

“Jika ada pihak-pihak yang ingin mengakui syiir, silahkan,” tuturnya, sembari mengucapkan kata-kata guyonan “Gitu aja kok repot”. Disinggung tentang kepopuleran syiir yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai karya dan suara Gus Dur, Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini mengaku tidak pernah mempermasalahkan. Malah, beliau bersyukur bila Syiir yang diciptakannya itu bisa didengar banyak masyarakat.

“Kalau memang dengan sebutan Syiir Gus Dur masyarakat luas bisa mendengar, maka saya malah bersyukur dan tidak mempermasalahkannya. Toh tujuannya sama, demi syiar Islam,” tegasnya sambil menunjukkan CD asli Syiir Tanpo Wathon sebagai bukti.

Dalam CD yang berisi 8 pujian itu, Syiir Tanpo Wathon jusru berada pada nomor dua. Seluruh pujian dalam CD itu dibawakan sendiri oleh Gus Nizam bersama para santrinya. Hanya Syiir Tanpo Wathon yang menggunakan bahasa Jawa, 7 syiir lainnya menggunakan bahasa Arab.

Gus Nizam tidak terlalu mempermalahkan jika syiiran itu diakui pihak lain. Dorongan justru datang dari para jamaahnya. Para pengurus dan jamaah, akhirnya mengukuhkan Syiir Tanpa Wathon itu ke Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bukti Hak Cipta.

“Jika ada pihak-pihak yang ingin mengakui syiir, silahkan,” tuturnya, sembari mengucapkan kata-kata guyonan “Gitu aja kok repot”.

Demikian Artikel Tentang KH Mohammad Nizam As-shofa LC, Pencipta Asli Syi’ir Tanpo Waton, Semoga dapat membantu.

Terimakasih Atas kujungannya di blog lightsislam.com. Pastikan kamu agar membagikan postingan ini ke media sosial kamu ya !

Sumber: koran Harian Bangsa

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *