Pelakor yang Mengganggu Suami Orang Lain?

Diposting pada

Pelakor yang Mengganggu Suami Orang Lain – Selamat datang di blog lightsislam.com, blog Islami bagi Muslim dan Muslimah. Memuat artikel seputar akidah Islam, fikih, pendidikan anak, wanita, al Qur’an dan hadits. Materi yang di tulis di blog lightsislam.com diambil dari berbagai sumber dengan penambahan bahasa yang sederhana dan tidak mengunakan bahasa yang baku, agar lebih mudah dipahami dan tidak sama persis dengan yang ada di buku. Selamat membaca dan jangan lupa share ke media sosial kamu ya !

pelakor yang mengganggu suami orang lain
Pelakor yang Mengganggu Suami Orang Lain

Pelakor yang Mengganggu Suami Orang Lain? Apakah Termasuk Takhbib? Samakah Dosanya?

Istilah takhbib yang viral dan sering dibahas di media sosial, sering diartikan sebagai perbuatan lelaki yang mengganggu istri orang dan merusak hubungan suami istri.

Lantas bagaimanakah bila kondisi kebalikannya? Pelakunya malah wanita yang memikat suami orang, atau yang saat ini terkenal disebutkan dengan istilah pelakor alias perebut suami orang. Sementara bila pelakunya lelaki, karena itu telah terkenal disebutkan pebinor, perebut bini orang.

Apakah takhbib juga berarti pelakor yang mengganggu suami orang lain? Samakah Dosanya?

Secara obyektif kasus ini tidak sama. Karena lelaki beristri yang dirayu wanita lain sah-sah saja menikah dengan wanita pelakor itu sebagai istri ke-2 , sepanjang wanita itu tidak dengan status sebagai istri orang. Menurut hukum fiqih, pria itu syah dan bisa saja jadi suami untuk dua wanita itu sekalian secara bertepatan alias poligami . Maka bisa jadi suami untuk istrinya dan wanita yang tiba memikatnya.

Beda hal dalam kasus lelaki yang memikat istri orang. Sang istri orang ini dalam agama Islam jangan dan tidak syah jadi istri untuk dua lelaki sekalian alias poliandri, suaminya dan lelaki yang tiba memikatnya.

Tetapi apa ketidaksamaan ini munculkan hukum yang lain? Jika lelaki mengganggu istri orang hukumnya haram dan dosa besar; dan jika wanita bujang memikat suami orang karena itu bisa dan tidak berdosa, karena bisa dan boleh-boleh saja dia jadi istri ke-2 nya?

Dalam hal ini secara tegas Syekh Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H), pakar fiqih madzhab Syafi’i asal Mesir menjelaskan, bahwa hukum keduanya sama, sama-sama haram dan dosa besar. Perbedaan tersebut tidak berdampak pada hukum.

Menurut beliau, perbedaan itu tidak memunculkan hukum yang berbeda karena mengganggu istri orang dan menggoda suami orang itu bersifat umum. Baik pelakunya laki-laki maupun wanita. Baik dengan tujuan ingin menikahinya maupun tidak. Ataupun iseng tanpa tujuan apapun. Semuanya sama, haram dan dosa besar.

Lebih jelasnya, Ibnu Hajar menegaskan:

الْكَبِيرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالْخَمْسُونَ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ: تَخْبِيبُ الْمَرْأَةِ عَلَى زَوْجِهَا، أَيْ إفْسَادِهَا عَلَيْهِ، وَالزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ … وَالثَّانِيَةُ كَالْأُولَى كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَإِنْ أَمْكَنَ الْفَرْقُ بِأَنَّ الرَّجُلَ يُمْكِنُهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الْمُفْسِدِ لَهُ وَزَوْجَتِهِ بِخِلَافِ الْمَرْأَةِ ؛ لِأَنَّ إفْسَادَ الْمَرْأَةِ عَلَى زَوْجِهَا وَالرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَعَمُّ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ الرَّجُلِ أَوْ مِنْ الْمَرْأَةِ مَعَ إرَادَةِ تَزْوِيجٍ أَوْ تَزَوُّجٍ أَوْ لَا مَعَ إرَادَةِ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ .

Artinya, “Dosa besar ke-257 dan ke-258 adalah mengganggu istri orang, maksudnya merusak hatinya sehingga tidak suka terhadap suaminya, dan menggoda suami orang … Hukum kasus yang kedua sama dengan kasus pertama sebagaimana sudah jelas, meskipun secara objektif bisa dibedakan, yaitu lelaki boleh menjadikan wanita yang menggodanya sebagai istri kedua, sedangkan wanita tidak boleh menjadikan lelaki yang menggodanya sebagai suami kedua. Sebab mengganggu istri orang dan menggoda suami orang itu bersifat umum. Baik pelakunya laki-laki maupun wanita. Baik bertujuan ingin menikahkannya dengan orang lain, atau bertujuan menikahinya maupun tidak. Ataupun iseng tanpa tujuan apapun.” (Ibnu Hajar al-Haitami, az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair, juz II, halaman 283).

Sampai poin ini bisa dipahami, meskipun yang ada di nash hadits adalah hukum lelaki menggoda istri orang, “man khabbaba zuajatamri-in”, namun hadits itu juga sekaligus berlaku sama untuk sebaliknya. Yaitu kasus wanita menggoda suami orang. Karena sudah jelas, akibat takhbib adalah rusaknya hubungan antara suami dan istri.

Baca Juga : Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka

Demikian inilah penjelasan ulama sebagaimana Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Syekh Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abadi, dan Syekh al-Mula Ali al-Qari.;(Al-‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah: 1415 H], juz VI, halaman 159; dan Al-Mula Ali al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, juz X, halaman 198).

Walhasil, perbuatan menggoda suami orang sama halnya dengan hukum menggoda istri orang, adalah termasuk kategori takhbib. Hukumnya sama-sama haram dan dosa besar. Wallahul musta’an.

Demikian Artikel Tentang Pelakor yang Mengganggu Suami Orang Lain? Apakah Termasuk Takhbib? Samakah Dosanya?, Semoga dapat memambah wawasan.

Baca Artikel yang lain di Google News

Terimakasih Atas kujungannya di blog lightsislam.com. Pastikan kamu agar membagikan postingan ini ke media sosial kamu ya !

Sumber : nu.or.id, Ustadz Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *