Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka

Diposting pada

Permainan Capit Boneka – Selamat datang di blog lightsislam.com, blog Islami bagi Muslim dan Muslimah. Memuat artikel seputar akidah Islam, fikih, pendidikan anak, wanita, al Qur’an dan hadits. Materi yang di tulis di blog lightsislam.com diambil dari berbagai sumber dengan penambahan bahasa yang sederhana dan tidak mengunakan bahasa yang baku, agar lebih mudah dipahami dan tidak sama persis dengan yang ada di buku. Selamat membaca dan jangan lupa share ke media sosial kamu ya !

Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka
Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka

Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka?

Banyak pertanyaan yang muncul di masyarakat mengenai hukum jual beli boneka dengan sistem capit claw. Sistem ini dilakukan dengan adanya mesin capit yang dipasang di dalam boks yang berisikan beragam boneka.

Apakah Ada Unsur Perjudian dalam Permainan Capit Boneka?

Sebetulnya mekanisme jual-beli semacam ini telah banyak diterapkan di beberapa supermarket di kota besar dan banyak pecintanya meliputi orang dewasa dan anak-anak. Bahkan juga, permainan ini makin memasuki ke beragam wilayah, ke beberapa toko di daerah perdesaan.

Pertanyaan yang kerap dilemparkan, bagaimana sebetulnya hukum jual-beli boneka dengan mekanisme capit claw itu?

Dalam masalah ini, ada 2 rangkuman hasil pengkajian yang sudah menyebar sekarang ini, diantaranya:

Pertama, menurut hasil keputusan bahtsul masail FMPP XXXVII. Pada komunitas ini disetujui jika hukum capit claw dan human claw ialah haram karena illat permainan judi (maisir/qimar).

Ke-2 , MUI DI Yogyakarta mengatakan hukum capit claw tidak haram karena illat munadhalah atau beradu kecakapan. Uang yang diberikan dipandang sebagai ongkos memakai mesin. Dalam pada itu, boneka yang didapatkan ialah sisi dari buah ketrampilan pemakai mesin.

Akhirnya, boneka itu dipandang sebagai hadiah ketrampilan hingga dipandangnya sebagai tidak haram. Selanjutnya, fatwa itu tempatkan boneka sebagai seperti point.

Mengenal Perjudian (maisir atau qimar)

Judi dalam istilah fiqih sering diistilahkan dengan maisir atau qimar. Ciri utama dari judi, adalah sebagai berikut:

عِلّة القمار مَوْجُودَة لِأن كلا مِنهُما دائر بَين أن يغنم ويغرم

Artinya: “Illat perjudian terbentuk karena kedua belah pihak sama-sama berpeluang selaku pemenang dan sekaligus yang kalah.” (Taqiyuddin al-Hishny, Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayatil Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Khair, 1994, juz 1, halaman 538).

Berdasarkan ungkapan pendek tersebut, dapat dipahami bahwa perjudian adalah:

(1) Kedua pihak sama-sama mengeluarkan harta.

(2) Kedua pihak sama-sama berpeluang untuk terambil hartanya.

(3) Di dalam permainan capit claw dan human claw, masing-masing pihak (penjual dan pembeli) adalah sama-sama mempertaruhkan harta.

(4) Apabila pihak yang menyerahkan uang tidak bisa menggunakan mesin, maka dia tidak mendapatkan boneka. Alhasil, uangnya hilang, sementara dirinya tidak mendapatkan apa-apa (yughram). Itu sebabnya permainan di atas masuk dalam ranah perjudian, sehingga bukan sekadar praktik gharar (spekulasi) yang masih bisa dishahihkan dengan adanya khiyar. Dan Forum Musyawarah Pondok Pesantren itu menyepakati akan hal ini.

(5) Hukum permainan capit claw dan human claw akan lain ceritanya, apabila setiap peserta dapat dipastikan dapat memperoleh boneka. Apabila kondisi ini terjadi, maka akad yang berlaku adalah bai’ muhaqalah atau munabadzah. Hukumnya masih bisa dishahihkan apabila disertai adanya khiyar. Namun, apabila tidak ada kepastian untuk mendapatkan boneka, sehingga kadang dapat dan kadang tidak, maka permainan itu adalah murni perjudian (maysir).

Pengertian Munadhalah atau Adu Ketangkasan

Munadhalah (adu ketangkasan) adalah bagian dari akad musabaqah (perlombaan adu cepat). Tujuan dari disyariatkannya munadhalah adalah untuk uji keterampilan.

المناضلة إنما تراد ليعرف بها فضل أحدهما على الآخر، فكانت موضوعة على التساوي

Artinya: “Yang dikehendaki dari permainan adu ketangkasan adalah untuk mengetahui kelebihan salah satu pihak atas pihak lainnya (dalam hal ketangkasan). Oleh karena itu, konteks yang berlaku adalah kesamaan dalam hal keterampilannya.” (Al-Umrany, Al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafii, Jiddah: Dar al-Minhaj, 2000, Juz 7, halaman 448).

Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa baik akad musabaqah maupun munadhalah, merupakan cabang dari akad ijarah (persewaan) atau ju’alah (pekerjaan)

Di dalam akad ijarah, ada pihak yang berlaku sebagai penyewa (ajir) dan yang disewa (musta’jir). Pihak yang disewa berhak atas upah.

Adapun dalam akad ju’alah, ada pihak yang memberi pekerjaan (ja’il), dan ada pihak yang diberi pekerjaan (maj’ul lah/‘amil). Pihak yang diberi pekerjaan, berhak atas komisi apabila bisa menyelesaikan misi yang disampaikan oleh ja’il.

Nah, dalam akad munadhalah, pihak lawan tanding menempati derajat musta’jir (pihak yang disewa) atau maj’ul lah (pihak yang mendapat proyek/sayembara).

Yang dikehendaki dari pihak yang disewa atau lawan adu ketangkasan, adalah amal-nya (pekerjaannya) dan bukan uangnya.

الجُعْل يَئُولُ إلى اللُّزُومِ إذا عَمِلَ العَمَلَ

Artinya, “Komisi berlaku apabila pekerjaan itu telah ditunaikan.” (Al-Buhuty, Kasyaf al-Qina’ ‘an Matn al-Iqna’, Beirut: DKI, tt., juz III, halaman 371)

Berawal dari titik sini, maka seharusnya pihak pembeli (lawan adu ketangkasan) tidak dipungut uang.

Dalam faktanya, pada permainan capit claw dan human claw, lawan tanding justru dipungut uang. Apabila lawan tanding tidak bisa menyelesaikan misi, maka uangnya hilang (yughram).

Baca Juga : Profil Singkat Ning Imaz, Putri Pengelola Ponpes Lirboyo

Itu sebabnya terpenuhi illat yaghnam aw yughram (ada pihak yang kalah atau menang). Dan illat ini adalah identik dengan perjudian. Alhasil, permainan capit claw tersebut tidak termasuk munadhalah melainkan perjudian.

Kesimpulan hukum permainan capit claw

1. bahwa baik permainan capit claw maupun human claw, keduanya memenuhi ta’rif standar dari perjudian (maysir/qimar). Oleh karena itu, kedua permainan itu adalah secara nyata dihukumi sebagai haram syar’an.

2. Keduanya ada kemungkinan bisa dibenarkan, dengan syarat jika pihak pembeli “bisa dipastikan” mendapatkan barang dalam hal ini boneka. Ketika kondisi ini terjadi, maka akad yang berlaku berubah menjadi akad bai’ munabadzah atau muhaqalah.

Rusaknya praktik ini, adalah semata karena illat gharar. Namun, satu gharar yang terjadi pada satu akad, masih bisa dibenarkan jika disertai adanya khiyar (opsi melanjutkan atau membatalkan akad). Ketiadaan khiyar, menjadikannya tetap dalam hukum keharamannya. Wallahu A’lam bisshowab

Demikian Artikel Tentang Perjudian Dalam Permainan Capit Boneka, Semoga dapat memambah wawasan.

Baca Artikel yang lain di Google News

Terimakasih Atas kujungannya di blog lightsislam.com. Pastikan kamu agar membagikan postingan ini ke media sosial kamu ya !

Sumber : nu.or.id

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *